Posted by : Unknown
Jumat, 29 Juni 2012

Leopard 2 adalah tank tempur utama (main battle tank, MBT) Jerman yang dikembangkan oleh Krauss-Maffei pada awal 1970-an dan mulai digunakan pada 1979. Leopard 2 menggantikan Leopard 1 sebagai tank tempur utama Angkatan Darat Jerman (West German Army). Beragam versi telah digunakan oleh Angkatan Darat Jerman dan di 12 negara Eropa lainnya, beberapa dari luar Eropa. Lebih dari 3,480 Leopard 2 telah diproduksi. Leopard 2 pertama kali digunakan Angkatan Darat Jerman pada Perang Kosovo serta pasukan Kanada dan Denmark yang tergabung dalam ISAF di medan tempur Afghanistan.
Ada dua pengembangan utama pada tank ini, dari model pertama hinggaLeopard 2A4 yang memiliki kubah tembak vertikal berlapis baja dan model yang lebih maju Leopard 2A5 serta versi yang lebih baru lagi, yang memiliki kubah tembak menyudut seperti anak panah dengan appliqué armour serta beberapa pengembangan lainnya. Seluruh model dilengkapi dengan sistem pengontrol penembakan digital dan rangefinder Laser, meriam utama 120 mm dengan kestabilan tinggi, senapan mesin koaksial, serta perlengkapan untuk melihat dan membidik dalam kegelapan night vision yang lebih maju (Leopard adalah kendaraan tempur pertama yang menggunakan alat pembidik low-light level TV system atau LLLTV; sementara thermal imaging baru diperkenalkan setelah itu). Tank ini memiliki kemampuan untuk bertempur menghadapi sasaran bergerak walaupun melewati medan yang sangat sulit dan tidak rata. Varian yang aktif antara lain 2A4, 2A5, 2A6, dan 2A7 (paling baru). Banyak Leopard 2 yang diupgrade untuk memperpanjang masa tugasnya dan memperkuat persenjataanya, umumnya ke varian 2A5 dan 2A6.
Sejarah Pengembangan :
Meski Leopard 1 mulai digunakan pada 1965, versi yang persenjataannya diperberat yakni meriam Rheinmetall L44 120 mm memang dipertimbangkan untuk menyaingi disain tank Uni Soviet, namun kemudian dibatalkan setelah ada proyek bersama dengan Amerika Serikat yakni "super-tank" MBT-70. Tank MBT-70 memang merupakan disain yang revolusioner, tetapi mengingat biayanya yang sangat mahal, Jerman mengundurkan diri dari proyek ini pada 1969.
Program nasional mulai dijalankan pada 1970 oleh Krauss-Maffei. Setahun kemudian diputuskan bahwa model tank yang akan dibuat harus didasarkan pada model sebelumnya Experimentalentwicklung (kemudian disebut sebagai proyek Keiler) dari tahun-tahun enampuluhan (yang sebenarnya diambil dari apa yang disebut sebagai vergoldeter Leopard atau "Leopard yang disepuh emas"), bukannya modifikasi dari MBT-70 atau Eber. Disain baru yang dibuat pada 1971 itu disebut sebagai "Leopard 2" mengingat Leopard yang asli kemudian disebut sebagai Leopard 1. Sebanyak 17 prototip dipesan pada tahun itu (meski hanya 16 yang akhirnya jadi. Kendaraan itu harus seberat limapuluh metrik ton.
Pada 11 December 1974 pemerintah Jerman dan Amerika Serikat menandatangani sebuah Memorandum of Understanding tentang kemungkinan dilaksanakannya kerjasama produksi MBT baru setelah Amerika Serikat membeli dan melakukan penelitian terhadap prototip lambung nomer 7 pada 1973. Dengan melihat pengalaman perang Yom Kippur memang diperlukan sebuah lapisan pelindung baja yang kualitasnya lebih baik pada prototip-prototip ini, yakni dengan menggunakan lapisan baja yang sangat miring. Kelas kendaraan ini meningkat menjadi enapuluh ton. Prototip Kubah Nomer 14 diubah bentuknya menjadi lebih gemuk untuk mencoba konfigurasi lapisan baja yang lebih baru,sebagai akibat digunakannya lapisan pelindung baja berperforasi yang vertikal. Kubahnya menjadi lebih luas daripada kubah Leopard 1 karena adanya ruang penyimpanan amunisi yang lebih besar di bagian belakang. Leopard 2 sudah menggunakan lapisan baja pelindung berperforasiperforated armour, dan bukan Chobham armourseperti yang pernah diklaim sebelumnya. PT-14 menggunakan meriam 120 mm Rheinmetall yang dipakai juga oleh tank Amerika Serikat M1 Abrams. Kemudian dipesan juga dua prototip lambung baru dan tiga tipe kubah, satu kubah (PT-20) dilengkapi meriam 105 mm dengan sistem kontrol penembakan fire control system Hughes, PT-19 dengan sistem kontrol penembakan yang sama, tetapi bisa ditukar dengan meriam Rheinmetall 120 mm (yang memang diganti oleh pihak Amerika Serikat), dan satu lagi (PT-21) dengan sistem kontrol penembakan buatan Hughes-Krupp, Atlas Elektronik EMES 13, yang mengendalikan meriam 120 mm.

Leopard 2 Prototip (pre-series) PT 19 (1978)
Data Teknis :
| Penjelasan | Leopard 2A4 | Leopard 2A5 | Leopard 2A6/A6M |
| Kru: | 4 |
| Mesin: | MTU-12-cylinder-Diesel engine MB 873-Ka 501, with two exhaust turbochargers |
| Kapasitas: | 47,600 cm3, RPM: 2,600/min |
| Tenaga Keluaran: | 1,500 PS (1,479 hp, 1,103 kW) |
| Transmisi: | Hydro-mechanical control, reversing and steering gear HSWL 354 with combined hydrodynamic-mechanical service brake, 4 forward, 2 reverse |
| Sistem Suspensi: | Torsion bar spring mounted support roller drive with hydraulic dampers |
Length Turret forward: | 9,670 mm | 10,970 mm |
| Lebar: | 3,750 mm |
| Tinggi: | 2,990 mm | 3,030 mm |
| Ground clearance: | 540 mm |
| Wading depth without preparation: | 1,200 mm |
| Wading depth with snorkel: | 4,000 mm |
| Trench passability: | 3,000 mm |
| Climbing ability: | 1,100 mm |
| Empty weight: | 52 t | 57.3 t | 57.6 t A6M 60.2 t |
| Combat weight: | 55.15 t | 59.5 t | A6 59.9 t (maximum mass; 61.7 t), A6M 62.5 t |
| Kecepatan Maksimal: | 68 km/h; backwards 31 km/h |
| Kapasitas Tangki: | 1,160 liters (limited to 900 liters when not in battle) |
| Fuel consumption and operating range: |
Road: ca. 340 l/100 km, ca. 340 km Terrain: ca. 530 l/100 km, ca. 220 km Average: ca. 410 l/100 km, ca. 280 km Static test: 12,5 l/h, 72–93 hours (with 900–1,160 liters capacity)
|
| Rotation time (360°): | 10 seconds |
| Armament: | Rheinmetall 120 mm smoothbore gun L/44 and 2 machine guns | Rheinmetall 120 mm smoothbore gun L/55 and 2 machine guns |
| Turret weight: | 16 t | 21 t |
| Turret rotation time: | | 360° in 9 seconds (electric) |
Operator :
Austria - 114 buah, ex Belanda
Belanda - 445 buah, banyak yang dijual pasca Perang Dingin, 82 aktif dan 26 di penyimpanan, ditambah 1 buah dalam kondisi rusak. Pada 8 April 2011, Menteri Pertahanan Belanda mengumumkan bahwa divisi tank Belanda akan dibubarkan akibat pemotongan anggaran besar-besaran dan semua tank Belanda akan dijual
Kanada - 120 buah, 20 diantaranya disewa dari Jerman untuk Perang Afghanistan, 15 lagi dibeli dari Jerman untuk suku cadang.
Chili - 132 buah, ex Jerman
Denmark - 51 buah, ex Jerman.
Finlandia - 124 buah, ex Jerman.
Jerman - 2,350 buah, semua varian. Banyak yang dijual ke negara lain pasca Perang Dingin atau disimpan. 408 buah aktif di AD Jerman.
Norwegia - 52 buah ex Belanda.
Polandia - 128 buah ex Jerman.
Portugal - 37 buah ex Belanda.
Singapura - 96 buah ex Jerman, termasuk 30 lainnya sebagai suku cadang.
Spanyol - 327 buah (108 ex Jerman, sisanya baru)
Swedia - 120 buah, ditambah 160 buah ex Jerman (tidak operasional)
Swiss - 380 buah
Turki - 339 buah ex Jerman.
Yunani - 353 buah (183 ex Jerman, sisanya baru)
Menunggu Persetujuan / Dalam Proses :
Indonesia: Tentara Indonesia telah merencanakan untuk membeli 100 Leopard 2A6s dari militer Belanda pada bulan November 2011, Jika Belanda menyetujui untuk menjual tank 2A6s Leopard ke Indonesia, pengiriman diperkirakan pada tahun 2014. Ini telah menyebabkan sedikit kontroversi namun sebagian ada perdebatan apakah tank ini cocok untuk medan di Indonesia. Partai GroenLinks dari Parlemen Belanda juga menyatakan keprihatinan atas pembelian tank tersebut. Indonesia telah memberi Belanda tenggat waktu untuk memutuskan apakah jadi atau tidak untuk menjual tank Leopard (MBTS). jika tidak jadi dijual maka Indonesia akan mencari sumber lain. Indonesia juga telah merencanakan untuk membeli MBT buatan Jerman dari negara asalnya, jika Belanda tidak memenuhi batas waktu. Rencananya adalah untuk membeli 2A4 dari penyimpanan dan kemudian meng-upgrade ke standar A6 atau menerima tawaran KMW tentang upgrade ke 2A7 , meskipun jumlah tank yang ditawarkan oleh Jerman mungkin berbeda dari tawaran Belanda. Pada 24 Mei 2012, Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengumumkan bahwa Jerman telah dipilih dan bahwa 30 Tank harus tiba pada bulan Oktober dan juga gelombang kedua akan dikirimkan pada tahun 2013.
Arab Saudi: Pemerintah Arab Saudi siap untuk menandatangani kesepakatan untuk 300 Leopard 2A7s (total 600-800 diinginkan). Pada awalnya ekspor itu disetujui oleh Bundessicherheitsrat Jerman (dewan keamanan federal), tapi setelah kritik publik di media izin ekspor sedang dievaluasi ulang.
sumber: WIKIPEDIA
Wah nampaknya kita terlalu lama menanti LEO, dan akhirnya indonesia membeli dari Jerman. mungkin politik kita politik ABUNAWAS, hanya pintar membodohi. Jika sedari awal kita membeli dari jerman dan minta TOT mungkin kita sudah naik LEO. dan yang pasti oleh kalangan DPR/ KOMISI I serta pemerintah UPGRADE ALUTSISTA ini nampaknya asal jadi saja tanpa tujuan yang jelas. jangan sia-sia uang rakyat untuk ALUTSISTA dan TOTnya. perancis, jerman mau memberi TOT tapi pemerintah/kemhan dan DPR/komisi I selalu ribut masalah teknis. SADAR BUNG, KALIAN hanya memberi penilaian dan SOLUSI untuk keperluan TNI, dan TNI adalah USER yang mengerti kebutuhannya. MERDEKA............
BalasHapus