Posted by : enggar setiadi Kamis, 08 Maret 2012

2014, Alutsista TNI Terkuat di ASEANJAKARTA - Pembangunan kekuatan militer besar-besaran yang dilakukan Pemerintah Indonesia, telah menimbulkan kekhawatiran negara-negara lain. Pada tahun 2014 kekuatan militer Indonesia dengan berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) yang ada akan memimpin di ASEAN.

"Bayak negara lain mengkhawatirkan pembangunanan kekuatan kita saat ini," kata Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa, di Jakarta, Selasa (17/1).

Meski demikian, tambah dia, pembangunanan kekuatan militer besar-besaran yang tengah dilakukan oleh pemerintah saat ini, bukan dalam rangka offensive, tetapi lebih pada mempertahankan kedaulatan bangsa.
Menurutnya, pembangunan kekuatan militer dan keamanan suatu bangsa akan seiring sejalan dengan laju perkembangan ekonomi dalam negara tersebut. Tampa terkecuali di Indonesia dengan perkembangan ekonomi dan kesejahteraan yang terus membaik.

Sejak reformasi dilakukan 1998, termasuk di sektor pertahanan, TNI tidak luput melakukan reformasi melalui restrukturisasi dalam tubuh TNI. Namun saat itu, belum menyentuh pada reformasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI. "Karena ekonomi yang terus membaik, sekarang dengan anggaran alutsista yang besar, kita membangun kekuatan TNI yang besar-besaran dalam lima tahun ini," tambah Menhan.

Sebagai gambaran kasar, kekuatan militer Indonesia, dalam waktu dekat, Indonesia akan memiliki pesawat tempur generasi 4,5, pemantapan alutsista untuk TNI Angkatan Darat dengan datangnya tank-tank berat, modernisasi alutsista di Angkatan Laut. "Akhir 2014 TNI akan kuat sekali, nanti kita akan kuat di ASEAN," kata Menhan.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan persyaratan sebuah negara yang berdaulat adalah dari kekuatan militernya. Namun, kekuatan militer tidak hanya diukur dari kuantitas kekuatan militer saja, tetapi juga dari strategi militer yang digunakan. "Pembangunan kekuatan militer lebih untuk kepentingan perdamaian dunia," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Sjafrie mengatakan Departemen Pertahanan (Dephan) memastikan anggaran belanja alutsista yang cukup besar bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Dephan melakukan audit berlapis dalam pembelian alustista sebagai langkah pencegahan penyimpangan.

Menurut dia, tambahan anggaran yang besar dalam revitalisasi alutsista sebenarnya merupakan pil pahit bagi Dephan. Namun merupkan gula bagi perkembangan industri pertahanan Indonesia. "Tambahan anggaran besar ini menjadi gula untuk pengembangan bisnis militer, namun juga ternyata menjadi pil pahit bagi kami. Yakni bagaimana untuk menghindari adanya penyimpangan," ujarnya.

Kemhan sendiri telah membentuk tim konsultasi pencegahan penyimpangan pembelian (TKP3B) dalam rangka pengawasan pengadaan pembelian alutsista. Untuk memastikan tidak adanya penyimpangan dalam anggaran yang besar tersebut, maka TKP3B melalukukan audit berlapis dalam proses pengadaan alutsista.

Pengadaan alutsista nantinya akan dilakukan secara hati-hati dan teliti dengan skema pembelian langsung, yakni dari pemerintah ke pemerintah atau G to G ataupun antara pemerintah dan produsen secara langsung. "Jadi auditnya tidak hanya di ujung, tapi untuk pembelian alutsista akan ada audit awal. Kalau masih lolos, udah keterlaluan," ujarnya. nik/P-3



Sumber: Koranjakarta

{ 6 komentar... read them below or Comment }

  1. Dg peralatan militer yg terus menerus berdatangan ke NKRI, perlu pendistribusian dan penataan wilayah militer yg baru. Bgmn P.Sembilang diberdayakan sbg wilayah militer maupun wilayah ekonomi yg baru dan akan memacu wilayah tersebut sebagai wilayah baru pembangunan. secara trategis sangat memadai sebagai tempat pelabuhan laut maupun bandara udara dan sekaligus tempat militer khususnya pangkalan pasukan marinir. P.Sembilang akan menjadikan konektet antara kota aceh dan kota medan. Bisa mengirimkan transmigrasi ke pulau tersebut agar cepat ramai

    BalasHapus
  2. dengan berdatangan alutsista yg baru maupun yang di up-grade diharapkan agar ditambahnya pangkalan militer TNI. terutama dalam Pulau² terluar NKRI. agar tidak terjadi sengketa kembali yang menyakiti Hati RI dan Masyarakatnya.
    jaya terus TNI "NKRI HARGA MATI"

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada pendapat sya pribadi.mengenai pulau ligitan dan juga yg lainnya dimana malaysia telah mengclaim sebagai wilayahnya,saya fikir salah pemimpin indonesia juga.kenapa dari sebelum orang mengclaim tidak diurus dengan baik(paten).kenapa NKRI terlalu banyak kelemahannya...apakah karena sibuk dengan korupsi.cobalah kalau selalu siap dan waspada kemungkinan tidak kalang kabut sewaktu orang lain mencuri sebagian pulau indonesia.sukar pemerintah indonesia.baru ada pencuri masuk ,baru bangun dari tidurnya.apa mungkin memang pemerintah tidak tau,klau mencuri itu gak perlu janjian kapan .

      Hapus
  3. apakah yg di maksud terkuat di asean sebenarnya.sedagkan teramat jelas dari segi alutsista masih kalah kualitas dan jumlah dengan singapore,untuk kapal selam dan tank juga masih kalah dalam jumlah.dengan vietnam.mohon di jelaskan juga kekuatan persenjataan,radar,rudal yg dimiliki sukhoi tni.serta berapa jumlah pesawat pembom tni..terimakasih.

    BalasHapus
  4. kenapa kalau india beli 125 raffale dari prancis,rakyatnya diam2,vietnam beli sukhoi 20 dan enam kapal selam kilo class.juga gak ribut.thailand bikin kapal induk juga rakyatnya diam2 gak ribut.beda sama rakyat malaysia -indonesia.beli barang rongsokan aja udah berani ngaku yg terbaik,termodern,ter hebat didunia.heran banget dengan kedua bangsa ini,mungkin didunia cuman dua bangsa inilah yg paling ribut.sementara kemampuan meiliter keduanya ,bukan sejauh mana

    BalasHapus
  5. INDONESIA masih Di bawah Vietnam, Singapure dan Thailand. Tertinggi di asean hanya untuk prajurit kalau untuk Alutsista masihhh jauuuhhh.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

follow by email

Statistic

Popular Post

Blog list

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © enr-news -Metro UI- Powered by Blogger - Designed by Enggar Setiadi -